
Terapi oksigen merupakan salah satu tindakan penting dalam dunia keperawatan dan kedokteran. Oksigen diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh ketika pasien mengalami gangguan pernapasan atau penurunan kadar oksigen dalam darah. Dalam praktik klinik, perawat harus memahami cara pemberian oksigen, jenis alat yang digunakan, indikasi, kontraindikasi, hingga cara menentukan dosis oksigen yang tepat.Pemahaman yang baik mengenai terapi oksigen sangat penting karena pemberian oksigen yang tidak tepat dapat menyebabkan komplikasi, terutama pada pasien dengan penyakit paru kronis seperti PPOK.
Pengertian Terapi Oksigen
Terapi oksigen adalah tindakan pemberian oksigen tambahan kepada pasien dengan tujuan meningkatkan kadar oksigen dalam darah dan jaringan tubuh. Oksigen diberikan ketika tubuh tidak mampu mempertahankan oksigenasi secara adekuat.Tujuan utama terapi oksigen meliputi:
- Mengatasi hipoksia
- Menurunkan kerja pernapasan
- Mempertahankan saturasi oksigen normal
- Mengurangi beban kerja jantung
- Meningkatkan kenyamanan pasien
Indikasi Pemberian Oksigen
Terapi oksigen diberikan pada pasien dengan kondisi berikut:
- Sesak napas
- Saturasi oksigen rendah
- Pneumonia
- Asma
- PPOK
- Edema paru
- Syok
- Trauma
- Infark miokard
- Henti jantung
- Keracunan karbon monoksida
- Pasien pasca operasi
- Gagal napas
Secara umum, terapi oksigen diberikan bila saturasi oksigen (SpO₂) berada di bawah 94%. Namun pada pasien PPOK kronis, target saturasi biasanya dipertahankan pada 88–92%.
Kontraindikasi Pemberian Oksigen
Secara umum tidak ada kontraindikasi absolut pada terapi oksigen. Namun terdapat beberapa kondisi yang memerlukan kehati-hatian.
1. PPOK dengan Retensi CO₂
Pada pasien PPOK kronis, pemberian oksigen terlalu tinggi dapat menyebabkan penumpukan karbon dioksida dalam tubuh sehingga pasien mengalami penurunan kesadaran.
2. Bayi Prematur
Pemberian oksigen berlebihan dapat meningkatkan risiko Retinopathy of Prematurity (ROP), yaitu gangguan pembuluh darah retina pada bayi.
3. Keracunan Paraquat
Oksigen konsentrasi tinggi dapat memperberat kerusakan paru pada pasien keracunan paraquat.
Jenis Alat Pemberian Oksigen
Dalam praktik keperawatan, terdapat beberapa alat pemberian oksigen yang sering digunakan.
1. Nasal Cannula (Kanul Nasal)
Nasal cannula merupakan alat yang paling sering digunakan. Alat ini berupa dua selang kecil yang dimasukkan ke lubang hidung pasien.
Dosis dan FiO₂
Flow OksigenFiO₂1 L/menit24%2 L/menit28%3 L/menit32%4 L/menit36%5 L/menit40%6 L/menit44%
Indikasi
- Hipoksia ringan
- Pasien stabil
- Pasien sadar
Kelebihan
- Nyaman digunakan
- Pasien tetap dapat makan dan berbicara
Kekurangan
- Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi tinggi
2. Simple Mask
Simple mask digunakan untuk memberikan oksigen dengan konsentrasi sedang.
Dosis
- 5–10 L/menit
- FiO₂ sekitar 40–60%
Indikasi
- Hipoksia sedang
Hal Penting
Flow oksigen tidak boleh kurang dari 5 L/menit karena dapat menyebabkan penumpukan CO₂ di dalam masker.
3. Non-Rebreathing Mask (NRM)
NRM adalah masker dengan kantong reservoir yang mampu memberikan oksigen konsentrasi tinggi.
Dosis
- 10–15 L/menit
- FiO₂ 60–95%
Indikasi
- Hipoksia berat
- Syok
- Trauma
- Kondisi gawat darurat
Pada penggunaan NRM, kantong reservoir harus tetap mengembang saat pasien bernapas.
4. Rebreathing Mask
Masker ini memiliki reservoir tetapi tanpa sistem katup lengkap seperti NRM.
Dosis
- 8–12 L/menit
- FiO₂ sekitar 60–80%
Indikasi
- Pasien yang membutuhkan oksigen konsentrasi sedang hingga tinggi
5. Venturi Mask
Venturi mask digunakan untuk memberikan oksigen dengan konsentrasi yang lebih akurat.
Indikasi
- PPOK
- Pasien dengan risiko retensi CO₂
Keunggulan
Konsentrasi oksigen dapat diatur secara presisi sehingga aman digunakan pada pasien PPOK.
6. High Flow Nasal Cannula (HFNC)
HFNC merupakan alat modern yang mampu memberikan oksigen dengan aliran tinggi dan kelembapan yang baik.
Dosis
- Hingga 60 L/menit
- FiO₂ mencapai 100%
Indikasi
- Gagal napas akut
- Hipoksia berat
- Pasien COVID-19 dengan gangguan pernapasan
Cara Menentukan Dosis Oksigen
Penentuan dosis oksigen dilakukan berdasarkan:
- Saturasi oksigen
- Kondisi klinis pasien
- Frekuensi napas
- Hasil analisis gas darah
- Penyakit dasar pasien
Tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan oksigenasi yang adekuat tanpa menyebabkan hiperoksia.
Berdasarkan Saturasi Oksigen
SaturasiTindakan≥95%Biasanya tidak membutuhkan oksigen92–94%Oksigen rendah bila ada gejala<92%Membutuhkan terapi oksigen<90%Hipoksemia berat
Rumus Perkiraan FiO₂ pada Nasal Cannula
FiO_2 \approx 20% + (4 \times \text{Flow Oksigen dalam L/menit})Sebagai contoh, bila pasien menggunakan nasal cannula 3 L/menit maka perkiraan FiO₂ yang diterima sekitar 32%.
Langkah-Langkah Pemberian Oksigen
Berikut prosedur sederhana pemberian oksigen:
- Cuci tangan
- Identifikasi pasien
- Jelaskan prosedur kepada pasien
- Periksa alat dan sumber oksigen
- Atur flowmeter sesuai dosis
- Pasang alat dengan nyaman
- Pantau respons pasien
Monitoring Selama Terapi Oksigen
Perawat harus terus memantau:
- Saturasi oksigen
- Frekuensi napas
- Warna kulit
- Kesadaran pasien
- Tanda distress pernapasan
Bila diperlukan, dilakukan pemeriksaan analisis gas darah untuk evaluasi lebih lanjut.
Komplikasi Pemberian Oksigen
Walaupun sangat bermanfaat, terapi oksigen dapat menimbulkan komplikasi bila tidak digunakan dengan benar.
1. Toksisitas Oksigen
Terjadi akibat penggunaan oksigen konsentrasi tinggi dalam waktu lama.
2. Retensi CO₂
Terutama pada pasien PPOK.
3. Kekeringan Mukosa
Karena oksigen bersifat kering.
4. Risiko Kebakaran
Oksigen mudah memicu api sehingga pasien tidak boleh merokok di dekat sumber oksigen.
Kesimpulan
Terapi oksigen merupakan tindakan penting dalam pelayanan kesehatan untuk membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh pasien. Perawat harus memahami jenis alat oksigen, indikasi, kontraindikasi, dosis, serta cara monitoring agar terapi berjalan aman dan efektif. Pemilihan alat dan dosis yang tepat dapat membantu mempercepat pemulihan pasien dan mencegah komplikasi serius akibat hipoksia.




